[MR] Cara agar mudah Hidupkan malam (Ihyaâ Ulaill)
February 19th, 2010 by syafiiAâuudzu billaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillahir rahmaanir rahiim.Alhamdulillahi robbil âalaamin
Allaahumma shalli wa sallim wa barik âalaa Sayidina Muhammadin wa âalaa aali Sayidina Muhammadin wa ashaabihi wa azwajihi wa dzuriyyatihi wa ahli baitihi ajma’in.
Wassalamuâalaikum warrahmatullah wa barakatuh, wa baâdu
Cara agar mudah Hidupkan malam (Ihyaâ Ulaill)
Â
1) Apabila masuk waktu maghrib, niatkan dalam hati kita untuk dapat bisa mendirikan Qiyammullail atau Ihyaâ Lail, yaitu selepas selesai sholat Maghrib .
âPara salafussoleh apabila mereka setelah sholat maghrib, mereka meniatkan qiyammullailâ.
2) Biasakan diri kita agar tidak bercakap-cakap antara margrib dan Isyaâ, kecuali setelah melakukan 6 rakaat *solat awwabin.
*Sholat sunnah yang dikerjakan antara maghrib dan isyaâ dinamakan sebagai sholat awwabin.
Boleh juga kita melakukan solat istikharah pada waktu ini agar apa-apa yang akan kita lakukan pada malam hari atas pilihan Allah.Dan bukankah pilihan Allah itu yang terbaik??
Kata Imam Al-Munzir dalam kitab At-Targrib wa At-Tarhib:
Dari Makhul.ra  bahawa Rasulullah SAW sampaikan padanya dengan berkata:âsiapa yang bersholat 2 rakaat selepas sholat Maghrib(fardhu) sebelum berkata-kata, Dalam riwayat lain: 4 rakaat, diangkatkan sholatnya di illiyyin (derajat surga yang tertinggi)â.
Dari Abi Hurairah berkata:
Rasulullah s.a.w bersabda:âSiapa sholat 6 rakaat selepas Maghrib(fardu) , tidak berkata diantara dengan sesuatu yang tidak baik, baginya sama seperti ibadah 12 tahun â.~Riwayat At-Tirmizi.
Faedah:
Para salafussoleh itu berebut-rebut dalam menyibukkan diri mereka dengan ibadah dan meninggalkan segala urusan dunia pada waktu itu.
Di Darul Mustafa(DM)/ Darul-Zahra Tarim Hadramaut:
Begitulah habib Umar bin Hafidz mengaturkan waktu buat kami. Selepas sholat Maghrib itu, setelah diberikan waktu untuk melakukan sholat-sholat sunnah, kemudian baru masing-masing ke halaqah Al-Quran masing-masing utk pembacaan Al-Quran selama setengah jam, setelah itu, membaca wirid hinggalah masuk waktu isyaâ.
Di Darul Mustafa/Darul Az-Zahraâ, Sayyidi Al-Habib Umar telah mentarbiyah kita dengan segala peraturan yang dicintai oleh Rasulullah s.a.w.Tiada peraturan yang disusun Beliau kecuali suatu yang dicintai Rasulullah s.a.wâ. Karena itu, kita ketahui bahwa Murabbina seorang pencinta Rasulullah s.a.wâ.
3) Setelah selesai menunaikan sholat2 sunnah, isikan waktu tersebut dengan ibadah khusus seperti Bacaan Al-Quran,wirid dan sebagainya.
4) Khususkan waktu antara Maghrib-Isyaâ pada waktu itu bermunajat kepada-NYA. Dan tepikan untuk sementara waktu (Maghrib-Isyaâ) dari segala urusan dunia dan hubungan dgn manusia.
Kata Habib Umar Ibn Hafiz :
âSayyidina Abu bakar meletakkan batu di mulutnya agar beliau tidak bercakap kecuali yang penting atau yang baik. kalau sayyidina Abu bakar yang sebegitu berbuat sedemikian, kita sebetulnya harus lebih perlu berbuat demikianâ.
Allahâ¦Hakaza tarbiyah ashabun Nabiyy!Sollu âalaihi!
Kalau kita bisa berhasil berbuat yang demikian ini, (yaitu menahan diri dari bercakap-cakap antara magrib dan isyaâ) selama dalam 40 hari berturut-turut, Insya Allah ia akan menjadi suatu kebiasaan seharian kita dan kita akan hanya (ditolong oleh Allah SWT) berbicara hanya pada saat-saat yang perlu di waktu-waktu lainnya. Jauh dari fudul al-kalam(berbicara yang berlebihan).
5) Sebelum tidur, Hendaklah menjaga adab-adab tidur seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, agar tidur kita diangkat dan dijadikan oleh Allah SWT sebagai ibadah bukan tidur ghaflah(lalai) dan supaya mudah untuk bangun Qiyammullail.
Kata Habib Umar:
âMan hafaza âala adabin Naum, soro naumuhu yaqazohâ.
(Siapa yang menjaga adab tidur, jadilah tidurnya itu tidur dalam keadaan yang sadar, tidak sia-sia umurnya).
Wallahu wa Rasuluhu âalam bish showab, wal âafuminkum.
Wassalamuâalaikum warrahmatullah wa barakatuh.
Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!
Dari:
“T.Fidriansyah” <fidri@yahoo.com>
Kepada:
“T.Fidriansyah” <t.fidriansyah@gmail.com>
Diceritakan dalm Hadits (Sa’aadatud Daroini hal;88).
“Yo wes ketepaan lek ngono tolong gowokno barang-barange sing nang njero montor, mesisan ambek barange bojone Man Aqib.” (Ya sudah kebetulan, kalau begitu tolong bawakan barang-barang yang ada di dalam mobil, sekalian dengan barangnya istrinya Paman Aqib) perintah Ibu Nyai Nafisah. Tanpa pikir panjang Ihsan pun langsung menurunkan semua barang yang ada di dalam mobil.
Dewasa ini. Kita pasti mengetahui, bahwasanya guru mana yang tidak mau semua muridnya berhasil dan sukses dalam mata pelajarannya. Tak ayal jika guru ketika berada di rumah sang guru mondar-mandir, ke sana ke mari, hanya perlu memikirkan metode pengajaran yang mudah dipaham oleh para muridnya.
(Sul⦠apakah kamu tahu, kalau “krambil” (bunga kelapa) itu tidak akan jadi kelapa semuanya. Ya ada yang terjatuh, ada yang masih jadi degan akan tetapi sudah diambil, ada juga yang sudah jadi kelapa, itu pun sedikit. Walau pun sudah jadi kelapa, terkadang belum dipanen sudah dimakan sama tupai dulu. Coba kamu pikir, kalau bunga itu jadi kelapa semua, yang kasihan itu pohonnya, pasti tidak akan kuat.) ujar Kiai Hamid. Belum Ust. Syamsul menjawab Kiai Hamid melanjutkan lagi. “anggepen ae wet kelopo iku mau guru, lek onok guru muride dadi kabeh yo angel, yo onok sing bijine elek, yo onok sing pas-pasan. Yo onok mane sing apik. Engko lek muride oleh nilai apik kabeh sak’aken gurune, biso-biso lek nggak kuat guru iku mau biso ngomong “ikiloh didikanku, dadi kabeh sopo disek gurune” lah akhire isok nimbulno sifat sombong. 
Zaman ini, sedikit sekali orang-orang yang hafal Al-Quran. Kita bisa melihat, para orang tua lebih resah kalau anaknya tidak bisa matematika atau bahasa Inggris, ketimbang tidak tahu Al-Quran. Padahal, itu adalah keluarga Muslim. Padahal, sebagai orang Islam, kita harus yakin, hanya Al-Quran lah sebagai petunjuk hidup kita.
A. Teknik “Chunkingâ (potongan-potongan)
C. Teknik Menghafal Dengan Teman
F. Teknik Merekam


Al Battar adalah sebuah pedang Nabi Muhammad SAW sebagai hasil rampasan dari Banu Qaynaqa. Pedang ini disebut sebagai âPedangnya para nabiâ, dan di dalam pedang ini terdapat ukiran tulisan Arab yang berbunyi : âNabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS, Nabi Musa AS, Nabi Harun AS, Nabi Yusuf AS, Nabi Zakaria AS, Nabi Yahya AS, Nabi Isa AS, Nabi Muhammad SAWâ. Di dalamnya juga terdapat gambar Nabi Daud AS ketika memotong kepala dari Goliath, orang yang memiliki pedang ini pada awalnya. Di pedang ini juga terdapat tulisan yang diidentifikasi sebagai tulisan Nabataean. Sekarang pedang ini berada di Museum Topkapi, Istanbul. Berbentuk blade dengan panjang 101 cm. Dikabarkan bahwa ini adalah pedang yang akan digunakan Nabi Isa AS kelak ketika beliau turun ke bumi kembali untuk mengalahkan Dajjal.





Ada yang mengatakan bahwa pedang ini dijaga di rumah Nabi Muhammad SAW oleh keluarga dan sanak saudaranya seperti layaknya bahtera (Ark) yang disimpan oleh bangsa Israel.
Al-Qadib berbentuk blade tipis sehingga bisa dikatakan mirip dengan tongkat. Ini adalah pedang untuk pertahanan ketika bepergian, tetapi tidak digunakan untuk peperangan. Ditulis di samping pedang berupa ukiran perak yang berbunyi syahadat: âTidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah â Muhammad bin Abdallah bin Abd al-Mutalib.â Tidak ada indikasi dalam sumber sejarah bahwa pedang ini telah digunakan dalam peperangan. Pedang ini berada di rumah Nabi Muhammad SAW dan kemudian hanya digunakan oleh khalifah Fatimid.
Pedang ini dikenal sebagai âQalâiâ atau âQulâay.â Nama yang mungkin berhubungan dengan tempat di Syria atau tempat di dekat India Cina. Ulama negara lain bahwa kata âqalâiâ merujuk kepada âtimahâ atau âtimah putihâ yang di tambang berbagai lokasi. Pedang ini adalah salah satu dari tiga pedang Nabi Muhammad SAW yang diperoleh sebagai rampasan dari Bani Qaynaqa. Ada juga yang melaporkan bahwa kakek Nabi Muhammad SAW menemukan pedang ini ketika beliau menemukan air Zamzam di Mekah.
Berwudhu didalam toilet hukumnya makruh namun sah wudhunya, asalkan tidak terdapat Najis, dan bila kita syak mengenai keberadaan Najis di tempat itu maka tempat itu tetap suci, terkecuali kita jelas jelas menemukan najis di tempat tersebut, dengan salah satu dari tiga sifat Najis, yaitu : Warna, Bau, dan Rasa.